Pendidikan Keuangan Sejak Dini: Patutkah Memberi Anak Uang untuk Melakukan Tugas Rumah?

2 min read

Semua anggota keluarga sudah selayaknya punya tanggung jawab sama dalam membereskan rumah. Bahkan sekalipun keluarga itu sudah punya asisten rumah tangga.

 

Para ibu yang telah memiliki anak pasti juga ingin mengajarkan sang buah hati tanggung jawab melakukan tugas rumah meski memiliki pembantu. Hal ini dianggap penting agar anak punya kepekaan sosial yang tinggi dan mau membantu orang lain.

 

Tapi, masalahnya, gimana kalau anak ogah-ogahan ketika diminta membantu membereskan rumah? Apakah boleh memberikan iming-iming uang agar dia mau mengerjakan tanggung jawab itu?

 

Menurut survei yang dilakukan  Environics Research Group di Kanada, jumlah orang tua yang setuju dan tak setuju memberikan uang agar anak membereskan rumah sama besar. Artinya, hal ini masih diperdebatkan, bukan soal boleh atau tidak boleh.

 

Seperti para peserta survei itu, para mommies pasti punya alasan sendiri yang mendukung pilihannya. Mommies yang setuju atas pemberian uang itu biasanya beralasan:

  1. Tidak mau anak menerima gratifikasi alias dapat uang saku tanpa berusaha
  2. Mengajari anak bahwa uang itu bernilai penting, sehingga gak gampang didapatkan
  3. Membuat anak rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga

 

Adapun mommies yang gak setuju umumnya berpendapat:

  1. Mengajari anak untuk membantu orang lain dengan rela
  2. Tidak mau anak melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan uang
  3. Mencegah anak terlalu banyak memegang uang sendiri

 

Aletha Solter dalam bukunya yang berjudul Helping Young Children Flourish termasuk yang gak merekomendasikan pemberian uang atas pekerjaan rumah tangga anak. Aletha merupakan pakar perkembangan anak yang juga pendiri Aware Parenting Institute di California, Amerika Serikat.

 

Menurut Aletha, anak yang selalu diberi uang untuk membereskan rumah bakal menolak diminta melakukan kewajiban itu begitu mereka merasa memiliki uang yang cukup. Di pikiran anak itu, “Buat apa kerja lagi, uangku udah cukup buat beli es krim.”

 

keuangan dini PIC 1

Kata orang dulu, anak-anak kalau udah terbiasa pegang duit banyak bahaya, bisa gatel-gatel tangannya. Yang pasti, anak bisa jadi borosss

 

 

Walhasil, mereka gak akan mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga meski ada iming-iming uang. Seharusnya, kata Aletha, orang tua dan anak bekerja sama dalam rumah tangga. Termasuk dalam melakukan pekerjaan rumah.

 

Aletha mengkhawatirkan hubungan orang tua dengan anak bukan lagi hubungan kerja sama, tapi profesional alias membutuhkan duit.  Apalagi kalau orang tua menerapkan reward and punishment alias memberikan uang kalau anak bekerja dan menghukumnya jika menolak. [Baca: Mendidik Anak Agar Disiplin Gak Perlu Boros, Loh!]

 

Mengajari pendidikan keuangan sejak dini kepa anak itu penting. Tapi gak bisa dilakkan sembarangan. Agar anak mau membantu membereskan pekerjaan rumah tanpa imbalan uang, ada tips yang bisa dipraktekkan, yaitu:

 

1. Bereskan mainan sendiri

Mommies disarankan mengajari anak membereskan rumah sejak dia berusia 2-3 tahun. Untuk permulaan, ajari buah hati membereskan mainannya setelah selesai bermain.

 

2. Anak mengerti tanggung jawab

Orang tua sering mengira anak kecil belum mengerti tanggung jawab. Sebaliknya, anak bakal cepat mempelajari arti tanggung jawab. Syaratnya, orang tua harus mengajarinya dengan memberi contoh nyata.

 

3. Uang saku ya uang saku

Uang saku sepatutnya diberikan secara rutin kepada anak, tanpa ada syarat. Jika mommies menerapkan aturan uang saku diberikan atas pekerjaan rumah tangga anak, terjadi” hubungan kerja” antara orang tua dan anak. Uang saku itu jadi seperti upah yang dibayar berdasarkan pekerjaan yang selesai.

 

4. Terima kasih, ya, Nak!

Keuangan Dini PIC 2

Komunikasi dengan anak penting, biar ikatan batin terjaga tetap kuat. 

 

 

Daripada uang, lebih baik berikan ucapan terima kasih dan pujian kepada anak. Ungkapan itu akan membuat anak bangga dan mau melakukan pekerjaan rumah tangga lagi karena merasa dihargai.

 

Berikan ungkapan itu dengan kalimat yang konkret. Misalnya, “Wah, terima kasih, ya, Nak. Setelah kamu membereskan mainan, ibu jadi bisa lebih cepet masaknya. Kita jadi bisa cepet makan, deh.”

 

Mengajari pendidikan keuangan sejak dini bagi anak lewat tugas rumah bisa dilakukan, tapi mommies sebaiknya menimbang sisi positif dan negatifnya juga. Kalau memberikan uang imbalan pekerjaan rumah tangga kepada anak dirasa banyak positifnya, bisa dilakukan.

 

Tapi daripada mommies keluar uang tapi si anak malah gagal mengelola keuangannya, lebih baik pengeluaran itu diarahkan ke hal lain yang lebih bermanfaat. Misalnya berinvestasi atau membuka usaha.

 

[Baca: Tips Membangun Usaha Rumahan untuk Mommies Yang Tidak Malas Membaca]

 

Investasi atau usaha yang dijalankan mommies pasti nantinya berguna juga buat masa depan sang buah hati, kok. Yang penting, mommies wajib berhati-hati dan cermat dalam menjalankan usaha itu. Jangan sampai kena tipu orang yang gak bertanggung jawab, ya.

 

[Baca: Awas, Bisnis Investasi yang Menipu Ada Di Mana-mana]

 

 

Kenali Ragam Metode dan Biaya Sunat Anak Agar Tahu…

Tahu sunat alias khitan kan? Yup, sunat adalah semacam operasi kecil untuk melepaskan kulup atau kulit yang menutup ujung penis. Di Indonesia, sunat bukan hal...
ID_Prasetyo
3 min read

Gak Harus Liburan, Nonton di Bioskop Juga Rekreasi Loh

Artikel ini dipersembahkan oleh: Rutinitas bekerja di kota metropolitan seperti Jakarta pastinya gampang bikin stres dan penat. Gimana gak? Kerjaan dari kantor udah banyak,...
ID_Prasetyo
1 min read

Ini Alasan Kenapa Orang yang Mandiri Bisa Lebih Cepat…

Kalau ditanya apakah mau hidup mandiri atau bergantung pada orang lain, pasti semua orang menjawab mau mandiri. Nyatanya, masih banyak yang terlalu minder untuk...
ID_Prasetyo
2 min read